Rabu, 12 Desember 2012

Di Tapal Batas

Di Tapal Batas 
Oleh : Anisa Edy S


Aku berdiri di ruangan ini. Menatap pantulan wajah ku di cermin. Mengamati seperti apa diriku sekarang.
Aku mulai menyisir rambut ku dengan jemari. Menikmati setiap helai rambut yang berada di sela jemari.
Sekali lagi aku memandang pantulan wajah ku di cerimin. Ada keriput yang mulai terlihat jelas disana. Membuat ku semakin sayu dan layu.
Aku membuka genggaman tangan ku. Beberapa helai rambut tersangkut. Membuat hati ku semakin miris. Aku sudah tua.

            Di ruangan 5X5 ini aku berdiri. Menyadari, mungkin ada beberapa hal yang hilang dariku. Yang menohok ku, bahwa aku mulai rapuh. Rapuh bersama akhir hari yang mulai mendekat.
 menggerogoti ku dari luar dan dalam.
            Aku menatap pantulan wajah ku di cermin. Tapi, aku tidak tau apa sebenarnya yang telah hilang dari diriku. Tangan ku lalu meraba permukaan cermin. Dingin. Sedingin perasaan ku sekarang. Aku memejamkan mata. Terasa benar luka di dalam hati ku. Perlahan namun dalam. Sekatika dada ku menjadi sesak, mata ku tersa panas.
Aku menarik nafas, menahan hasrat ku untuk menangis sekencang-kancang nya. Menangis dalam hati. Menangis dalam diam.
            Aku membuka mata.
Dasar wanita biadab
Aku seakan menemukan sebuah pertanyaan.
Apakah aku yang sekarang, sama seperti aku yang dulu?
Dasar kau perempuan jalang
Aku yang dulu dan tak berubah.
Puas kamu, karena sudah menghancurkan hidup ku?!
Aku yang dulu, tak menjadi orang lain ?
Kamu pembawa petaka !
Aku yang dulu, yang tak pernah berpura-pura?
Kamu sudah membuat aku dan anakku menderita !
Aku yang dulu, yang mempunyai belas kasih?

            Aku melihat pantulan nya yang berjalan mendekat padaku. Kemudian ia berhenti tepat di belakang ku. Kami saling bertatap melalui cermin. Terdiam. Tidak menemukan kata-kata.
            “ Sedang apa kamu disini ?” Tanya nya beberapa waktu kemudian.
Aku tidak menjawab pertanyaaan nya. Aku terus saja memandang wajahnya.
Sesungguhnya, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada nya. Aku ingin memastikan semua nya.
Tapi, lidah ku tidak sanggup untuk mengatakannya. Kali ini, aku ingin ia dapat apa yang ingin aku katakan. Paham, lalu menjawabnya tanpa aku harus mengatakannya.
Karena tiap kali aku ingin mengutarakannya, aku selalu takut pada akibat yang akan terjadi.
            Aku mendesah. Tapi, haruskah aku terus-menerus takut. Haruskah aku terus hidup seperti ini?
            “ Bukankah yang kita lakukan ini salah mas ? “
Aku bicara sambil terus memandangnya melalui cermin. Mataku tak beralih dari wajahnya.
Akhirnya aku berani mengatakan apa yang mengganjal di hatiku selama ini.
Aku sepenuhnya sadar bahwa kata- kata ku ini bisa menjadi bumerang untukku.
Aku terlalu nekat mengajukan pertanyaan ini.
Aku tidak melihat keadaan. Aku bahkan menyakiti hatiku sendiri.
            “ Apa maksud mu? “ tanyanya terkejut.
Aku kembali tidak menjawabnya. Aku takut. Aku benar-benar takut untuk mengatakannya lagi.
Tiba-tiba ia mendekap tubuhku. Lalu berbisik di telingaku
            “ Aku mencintaimu Rien “
Aku menghela nafas. Mengapa ia memperlakukan ku seperti ini?. Membuatku merasa hebat dan sempurna.
Andai ia tau, apa yang dilakukunnya menjadikan aku makin bimbang. Semua perlakuannya makin membuatku sadar. Bahwa aku tak memerlukan yang lain. Hanya ia yang aku perlukan. Yang aku butuuhkan dalam hidup.
Dan itu membuatku semakin merana.

            Aku membalikkan badan. Lalu mendongkkan , berhadapan dengan wajahnya.
Aku menemukan matanya. Terseret masuk ke kedalaman matanya. Aku tau, aku tidak akan mampu mengeluarkan diri.
              Yang kita lakukan ini salah Mas “
Setelah beberapa waktu, akhirnya aku bisa mengatakannya lagi.
 Aku meneguhkan hati, memandang tajam bola matanya.
            “ Jawab aku Mas ! “
Aku semakin mendesak nya.
            “ Ya Rien, yang kita lakukan ini memang salah. Tapi, aku tidak mencintai Wulan.Yang aku cintai kamu Rien, sekarang dan selamanya “ ia ingin memelukku lagi. Namun, kali ini iku mencoba untuk melepaskan diri.
            “ Kamu mengatakannya hanya untuk membuatku senang. Lihat aku Mas, aku sudah mulai tua,dan kamu tau sendiri bagaimana keadaan ku “
Aku mundur beberapa langkah.
            “ Tidak Rien, aku tidak bohong. Tolong jangan membuatnya rumit.” Ia mengatakanya dengan tegas.
            Rumit. Ya, semuanya memang rumit. Tapi, bukankah dia yang menyeretku dalam kerumitan ini.
Dan tentang cinta. Seberapa besar cintanya untukku?. Walaupun ia mengatakan bahwa ia mencintai ku. Sebenarnya aku tidak bisa memastikan nya.
Akh, mengapa kini aku mempermasalahkan cintanya?. Bukankah karana keyakinan ku akan cintanya aku berani memberontak?. Mengacuhkan norma serta harga diri ku
ARRRGHHHHH......
Aku ingin berteriak...

            Biar dinding memantulkan kepada langit, kepada matahari, yang akan memberitakan ke seluruh dunia.
Ya, aku MENCINTAINYA.
Namun, cinta macam apa ini?yang tidak boleh aku memilikinya?. Cinta yang tak berhak aku menikmatinya?. Cinta yang tak pantas aku menerimanya?. Cinta yang haram ku merasakannya?
            “ Kembalilah pada Wulan. Kembalilah pada istri dan anakmu. Sudah cukup kamu meninggalkan mereka, memilij untuk hidup bersama ku. Sudah cukup aku memilikimu”
Akhirnya aku mengambil keputusan ini. Suatu kebenaran yang melukai.
            “ Aku tidak bisa meninggalkan mu. Itu tidak mungkin.” Ia menggeleng cepat. Rahang nya mengeras menahan amarah.
            Tolang Mas, dengarkan aku. Tolong lakukan permintaan ku ini Mas”
Bagaimana caranya untuk bisa meyakinkannya? Aku sudah kehabisan daya dan upaya.
            “ Tapi, aku mencintaimu Rien, apalagi aku tidak bisa meninggakan mu dengan keadaan sakit “
Aku merasa terpojok. Harga diriku telah di lecehkan olehnya.
            “ Jangan pernah mengasihani aku karena aku sakit dan lemah Mas. Jangan jadikan alasan untuk membuatku bertahan lebih lama untuk tak beranjak dari lingkaran yang kau buat”
Nafas ku tersenggal-sengal akibat emosi yang memuncak.
            “ Aku tau Mas, aku tidak sehat penyakit  tumor ini membuatku tidak berdaya. Namun, jangan kamu anggap aku tidak mampu. Perasaan cintaku padamu hanya membuatku melakukan hal yang tidak pantas. Biarkan aku hidup tanpa bayangan mu,belajar tanpa mu di sisi ku”
Ia menatap ku tak percaya.
Namun, aku yakin dengan pilihan ku.

            Aku memilih untuk meninggalkan nya.
Pergi dari ruangan ini.
Pergi dari kehidupannya.
Dan menyadari apa kesalahan ku sebelumnya.
Dan mendapatkan apa yang aku cari.
Yaitu, hidup tanpa rasa bersalah.
Dan biarkan aku menjadi aku yang dulu.